Indonesia dijajah Belanda dan Jepang, tapi orang Indonesia juga tidak mundur kala harus berhadapan dengan tentara Inggris. Peristiwa itu berlangsung dari 27 Oktober hingga 20 November 1945. Dan, situasi Indonesia memang belum stabil usai proklamasi kemerdekaan dikumandangkan.

Perlawanan itu muncul karena tentara Inggris mewajibkan orang Indonesia melapor dan menyerahkan diri. Apakah ini bukan pelecehan terhadap kemerdekaan Indonesia yang baru saja berumur tiga bulan itu?

Rakyat pun terpukul dan memilih melawan. Bagaimana mungkin harkat dan martabat Indonesia diinjak-injak begitu saja, padahal Indonesia telah merdeka.

Akhirnya pada jam 6 pagi, pada 10 November 1945, rakyat Indonesia di Surabaya melangsungkan perlawanan. Sekalipun hanya berbekal senjata sederhana, namun tentara Inggris yang canggih peralatan perangnya sangat kewalahan. 

Heroisme yang luar biasa dari rakyat itu akhirnya mendapat perhatian dari Presiden Soekarno. Akhirnya pada 10 November 1946 ditetapkanlah 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Sementara itu, tokoh ulama yang berlatar belakang santri, cukup banyak yang berkiprah dan mendapat penghargaan sebagai pahlawan. Seperti KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, KH Wahid Hasyim dan seterusnya.

Ini berarti hari kepahlawanan sangat dekat dengan nafas santri dan pesantren dalam kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu melalui momentum 10 November 2023 sudah saatnya para santri sadar akan salah satu jati dirinya paling mendasar, yakni rela berkorban semangat dalam berjuang untuk kemajuan bangsa dan negara.

Santri dan pesantren harus mampu tampil sebagai lokomotif pembangunan yang berkelanjutan di negeri ini. Sebagaimana dahulu para pahlawan mengusir penjajah, maka santri dan pesantren masa kini harus mampu menciptakan kemajuan dan kesejahteraan bagi umat, rakyat, agama, bangsa dan negara.

Dalam Silatnas Hidayatullah 2023 akan hadir 20.000 dai dan daiyah dari berbagai pesantren yang telah tersebar di seluruh Indonesia. Tentu saja ini kekuatan, kekuatan penting untuk memelihara nilai-nilai heroisme di tengah masyarakat terombang-ambing oleh materialisme dan pragmatisme.

Mari bersama sama terus kuatkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan kita menyemai anak bangsa menjadi pemimpin masa depan.

Berbagai dukungan terhadap situasi terkini umat Islam di Gaza Palestina terus mengalir dari seluruh elemen masyarakat dunia. Mulai dari aksi boikut produk Zionis Israel hingga aksi damai menghadirkan jutaan massa yang turun ke jalan.

Selain itu, ajakan menggencarkan khutbah perihal kondisi Palestina atau Baitul Maqdis serta dukungan munajat berupa Qunut Nazilah juga tak henti dipanjatkan di sudut-sudut wilayah dari kota hingga perkampungan.

Tak kecuali yang diadakan oleh sebagian masyarakat Kelurahan Teritip, Balikpapan, yang berbatasan dengan pinggiran wilayah Samboja, Kutai Kartanegara. Lebih dari kurun sebulan, mereka tak henti bermunajat kepada Allah untuk keselamatan dan kemenangan para murabithun di tanah Baitul Maqdis.

Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin yang lemah di Palestina, Ya Allah sayangi dan kasihilah mereka dan keluarkanlah mereka dari isolasi dan keadaan sempit yang mereka alami saat ini. 

Ya Allah terimalah syuhada mereka dan sembuhkanlah yang luka dan sakit dari kalangan mereka, Ya Allah tetaplah bersama mereka dan jauhilah musuh-musuh mereka karena tiada daya dan kekuatan bagi mereka kecuali dari-Mu

Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu buat kaum mujahidin di Palestina, Ya Allah tolonglah mereka menghadapi kaum Yahudi dan penolong-penolong mereka dari kalangan kuffar dan kaum munafik. 

Ya Allah tepatkanlah bidikan mereka, rapatkanlah shaf perjuangan mereka dan satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran Ya Hayyu Ya Qayyum.

Termasuk Shubuh awal November ini (6/11/2023), munajat yang memilukan tersebut kembali dibacakan oleh Ustadz Muhammad Baharun Musaddad, saat memimpin doa Qunut Nazilah yang diaminkan oleh ratusan jamaah masjid ar-Riyadh, Balikpapan, Kalimantan Timur. 

Setiap waktu shalat, masjid yang berarti “taman surga” terebut memang terbilang ramai. Selain berada di area kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah, masjid yang memiliki dua kubah tersebut juga terletak di pinggir jalan raya. Cukup nyaman untuk disinggahi oleh masyarakat umum. 

Shubuh itu, jamaah masjid ar-Riyadh tak cukup meminta kepada Allah untuk menolong para murabithun (orang-orang yang bersabar dan berjaga-jaga di medan jihad) tetapi juga berdoa untuk menghancurkan kezhaliman penjajah Israel yang telah menjajah bumi para nabi tersebut. 

Ya Allah turunkanlah hukuman-Mu atas kaum Yahudi yang telah melakukan kezhaliman dengan membunuh saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina, Ya Allah hukumlah mereka sesungguhnya mereka tak mampu melemahkan-Mu. 

Ya Allah cerai beraikan mereka porak porandakan kesatuan mereka dan turunkanlah balasan-Mu atas mereka.

Ya Allah kumpulkan dan binasakanlah mereka dan janganlah Engkau sisakan sedikitpun dari mereka, Ya Allah turunkanlah atas mereka dan semua pihak yang membantu mereka balasan-Mu yang tidak dapat ditolak oleh kaum pembuat kezhaliman.

"Secara eksplisit lima surah pertama (Al-Alaq: 1-5, Al-Qalam: 1-7, Al-Muzammil: 1-10, Al-Mudatstsir: 1-7 dan Al-Fatihah: 1-7) berdasarkan tartibun nuzul tersebut mengandung prinsip-prinsip utama ajaran Islam, yaitu aqidah, akhlak, ibadah, misi dakwah, dan sistem kehidupan." (Lihat Jati Diri Hidayatullah 1 halaman: 43).

Untuk sampai pada penemuan sistematika wahyu sebagai manhaj dakwah, Allahuyarham Ustadz Abdullah Said harus melalui proses panjang. 

Setelah bergelut dengan dunia dakwah termasuk pertanyaan mendasar bagaimana membawa umat ini bangkit dari keterpurukan sebagaimana Nabi SAW mampu melakukannya, sampailah beliau pada satu kesimpulan. 

Bahwa belum berhasilnya dakwah adalah karena Alquran tidak didakwahkan secara sistematis berdasarkan urutan-urutan diturunkannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

"Kesimpulan ini mempunyai alasan sederhana yaitu bahwa sebagai seorang Rasul yang baru saja diutus oleh Allah SWT, logikanya adalah, wahyu-wahyu yang pertama kali beliau terima adalah pokok dan inti dari gerakan Islam yang ditugaskan kepadanya." (halaman 94).

Jadi, mulailah ketemu, bagaimana Nabi SAW secara manusiawi sampai pada tahap iman. Yakni saat menerima wahyu pertama, Surah Al-Alaq ayat 1-5. Itu adalah wahyu yang berisikan sari pati jawaban terhadap pertanyaan besar umat manusia tentang hakikat penciptaan, kekuasan di alam semesta.

Ustadz Abdullah Said pun kerap mengintrodusir kepada kader-kadernya bahwa kejayaan Islam hanya dapat dibangun di atas pondasi keimanan dan Tauhid yang kuat, ketergantungan yang tunggal hanya kepada Allah SWT. Sejak itu kajian syahadat menjadi materi pendidikan dan dakwah utama Ustadz Abdullah Said.

Surah kedua, yakni Al-Qalam ayat 1-7 mendorong kita punya sistem penjelas bahwa Alquran adalah jati diri (ideologi) umat Islam. Hanya dengan Alquran, umat Islam selamat dari kegilaan (kemajuan peradaban yang destruktif). Lihatlah bagaimana sekarang negara yang ekonominya maju menjadi stres karena penduduknya tidak mau menikah dan memiliki keturunan. Ini hanya satu kasus paling kasat mata.

Menarik, surah ketiga, Al-Muzzammil ayat 1-10 mendorong setiap diri kaum Muslimin untuk benar-benar tekun menempa diri. Jadi, agenda utama dalam 24 jam setiap kader Hidayatullah itu jelas, mulai dari Qiyamul Lail, hingga sabar dan hijrah. Tidak heran kalau kemudian Pemimpin Umum mengatakan bahwa jam paginya kader Hidayatullah itu adalah jam 3.00, saat kita harus siap untuk Tahajjud.

Surat keempat, Al-Muddatstsir ayat 1-7 memberikan panduan bagaimana dakwah harus kita lakukan agar berkelanjutan dan sukses membangun masyarakat yang berkarakter peradaban. 

Mulai dari harus berani tampil ke gelanggang untuk dakwah, hanya menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, membersihkan pakaian, menjauhi dosa dan tidak melakukan dakwah untuk mendapatkan kekayaan pribadi. Semua ini adalah rambu-rambu dakwah, agar perjuangan dakwah tak mudah layu lalu mati dan tiada.

Terakhir, Surah Al-Fatihah. Surah ini menjadi visi dakwah umat Islam, yakni membangun kehidupan masyarakat yang memanifestasikan nilai-nilai iman secara nyata, langsung dan setiap hari. 

Dan, Silatnas Hidayatullah 2023 sejatinya adalah penguatan jati diri setiap kader Hidayatullah bahwa dakwah ini harus berkelanjutan hingga tercapai visi kita bersama, "Membangun Peradaban Islam."

"UMMI, UANG JAJANKU SIMPAN AJA UNTUK DISUMBANGKAN KE PALESTINA"

Demikian permintaan Aisyah Zakiyah, murid taman kanak kanak Raudhatul Athfal (RA) Raadhiyatan Mardhiyyah yang masih berusia enam tahun kepada ibunya.

Sejak diadakan penggalangan dana Palestina di sekolahnya, nyaris tiap hari Aisyah minta disampaikan berita tentang anak-anak di Gaza. 

Jawaban yang akan diikuti dengan rentetan pertanyaan pertanyaan yang terkadang ibunya sendiri kewalahan untuk menjawab pertanyaan yang butuh tarikan nafas panjang.

"Ummi kenapa Allah ndak kasih menang aja Palestina, kan, mereka shaleh?"

"Bolehkah kita kasihan sama anak-anak Israel yang luka?"

"Ummi, kenapa masih pakai ini?"

Sambil menunjuk stok produk makanan yang masuk dalam daftar boikot.

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya, yang membuat sang ibu harus evaluasi diri, meningkatkan wawasan dan skill menjawab pertanyaan anak usia dini.

Jika sebelum-sebelumnya Aisyah senang sekali menonton film kartun anak-anak, sekarang ketika mendapat jatah nonton, Aisyah langsung mencari berita tentang Gaza menggunakan tool pencarian via suara.

Namun pernah ia cemberut ketika mencari "berita anak Gaza", dan yang muncul adalah video-video anak gajah. Akhirnya, dia mengganti dengan "berita anak Palestina”, hehe.

Meski banyak sekali dampak positif dari apa yang ia tonton, ibunya juga tetap mengawasi, mengedukasi agar tidak terjadi trauma, dan dampak negatif lainnya. 

"Sejauh ini dampak positif yang terasa, anak-anak lebih mudah ditenangkan ketika ada hal-hal yang dia inginkan, atau dikeluhkan. Bahkan dia protes ketika kakaknya meminta pergi ke pantai, karena tidak tega senang senang sementara anak Palestina lagi susah," demikian cerita Ratnawati, ibu Aisyah dengan rasa haru. 

MasyaAllah, jika anak-anak saja punya kepedulian dan perhatian terhadap isu  Palestina, apakah kita orang dewasa yang sudah tahu apa yang harus kita lakukan, masih abai, dan menutup mata? Mari membantu Palestina dengan apapun yang kita bisa.

Teringat kisah israiliyat tentang jawaban burung pipit saat membantu memandamkan api Nabi Ibrahim yang dibakar raja yang lalim.

"Mungkin air yang kubawa tidak akan memadamkan api di bawah sana. Tapi jika nanti Allah bertanya, maka aku bisa memberikan jawaban. Bahwa aku tidak tinggal diam. Aku telah melakukan sesuatu!"

Hidayatullah telah memiliki kader-kader hebat dalam dakwah lapangan dan juga meninggalkan jejak pikiran. Salah satunya adalah almarhum Dr. Abdul Mannan, MM. Salah satu jejak itu bisa kita baca di Majalah Suara Hidayatullah Edisi Maret 2012/ Rabiul Akhir 1433 di halaman 98. Pada halaman itu Dr. Abdul Mannan berbicara "Makna Produktivitas dalam Islam."

Pria yang pernah satu dekade menjadi Ketua Umum DPP Hidayatullah itu mengawali tulisannya dengan definisi produktivitas. "Pada hakikatnya produktivitas berkaitan erat dengan kegiatan produksi yang dapat dilaksanakan bila tersedia faktor-faktor produksi berupa orang/tenaga kerja, uang/dana, dan bahan baku."

Dari definisi itu Peradaban Barat menganggap produksi adalah gerakan menghasilkan kekayaan, meski harus dengan melakukan eksploitasi manusia bahkan lingkungan. Dan, produksi juga tentang bagaimana menghasilkan nilai tambah atau nilai guna suatu barang atau  jasa dengan menggunakan sumber daya yang ada.

Jadi, kalau belakangan muncul masalah krisis iklim, daratan yang terkikis oleh tingginya air laut, boleh jadi itu karena cara memahami produktivitas sebatas bagaimana menghasilkan kekayaan, tetapi lupa dalam perawatan lingkungan.

Nah, dalam Islam, produktivitas kerja tidak sebatas pada ukuran berapa uang yang bisa dihasilkan. Tetapi apakah dalam praktik produksi itu etika ekonomi atau akhlak ekonomi tegak dan diterapkan.

"Jadi dalam Islam, keberhasilan sebuah sistem ekonomi tidak hanya disandarkan pada segala sesuatu yang bersifat materi. Tapi setiap aktivitas ekonomi termasuk produksi bisa menerapkan nilai-nilai, norma, etika, atau dengan kata lain akhlak yang baik dalam berproduksi. Sehingga tujuan kemaslahatan umum bisa tercapai dengan aktivitas produksi yang sempurna."

Dan, umat Islam, lebih spesifik gerakan Islam seperti Hidayatullah dalam pandangan Dr. Abdul Mannan penting sekali melakukan produksi. Karena produksi menjadi indikasi umat Islam memiliki kemakmuran dan taraf hidup yang maju secara ekonomi. 

Selain itu sebagai umat Rasulullah, kita memang dituntut mampu bekerja keras dalam mencari kehidupan bahkan mendakwahkan Islam. Coba lihat bagaimana produktifnya Ustadz Abdullah Said yang memberi bekal atau pelajaran bahwa kita harus bekerja keras, berpikir keras dan beribadah keras.

"Kedua, Allah Ta'ala telah menganugerahkan alam semesta untuk kesejahteraan manusia. Ketiga, aktivitas kerja manusia dalam melakukan produksi sebagai dasar berjalannya roda perekonomian."

Dalam kata yang lain, sekiranya Ustadz Dr. Abdul Mannan, MM, hadir di tengah-tengah Silatnas Hidayatullah 2023, maka beliau akan mengevaluasi gerakan ekonomi Hidayatullah, sudahkah benar-benar produktif dan bagaimana langkah untuk benar-benar produktif, sehingga eksistensi Hidayatullah membawa berkah bagi Indonesia bahkan dunia. 

Apalagi kalau ketemu barisan muda Hidayatullah, produktivitas apa yang telah disiapkan untuk bisa memimpin Indonesia di 2045?

Momen Silatnas ladang untuk menabur benih kebaikan. Ruang kontribusi terbuka lebar bagi seluruh kader dan jamaah Hidayatullah. Ada yang masuk lewat pintu materi, ada juga yang masuk lewat pintu tenaga, pikiran, dan waktu. Namun ada yang Allah beri keistimewaan untuk masuk ke semua ruang pengorbanan itu: materi, tenaga, waktu, dan pikiran.

Di tengah hiruk pikuk kesibukan panitia memikirkan segala sesuatu yang harus dipersiapkan untuk menyambut kedatangan ribuan tamu, ada secebis kisah haru yang datang dari salah satu halaqah ummahat Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Kampus Peradaban Hidayatullah Ummulqura Balikpapan.

Halaqah ummahat ini beranggotakan 11 orang dengan usia rata-rata 40-78 tahun. Sejak pertama kali ada himbauan infaq Silatnas, mereka begitu antusias dan berusaha untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit dana yang mereka miliki. Setiap waktu halaqah ada yang membawa 20 ribu dan nominal lain untuk dikumpulkan ke bendahara halaqoh.

Ustadzah Yuni Marwaningsih, selaku Murabbiyah halaqoh ini mengatakan, "Terlihat bahwa apa yang mereka lakukan itu benar-benar bermodal ketaatan dan keyakinan, tak pernah ada kalimat keluhan keluar dari lisan mereka". 

Padahal, Ustadzah Yuni sangat tahu kondisi ekonomi dari mereka. Beberapa ada yang janda, ada yang berjualan kue, es lilin, dan pekerjaan yang secara kasat mata sangat layak untuk meminta permakluman atau mengeluh.

Alhamdulillah, laporan dari murabbiyah mereka, anggota halaqah 5 ini telah 100 persen melunasi himbauan infaq Silatnas beberapa bulan lalu dengan nominal 500 ribu yang berlaku untuk semua anggota Mushida Kaltim. Nominal 1 juta untuk para Murabbiyah, sebagai tuan rumah perhelatan akbar Silatnas.

Lalu, ketika sang murabbiyah menyampaikan bahwa setiap rumah akan mendapat satu hari kunjungan dari tamu Silatnas sebanyak 10 orang/rumah, mereka menyambut antusias dengan ungkapan tulus, "di rumah saya bisa".

Masya Allah, rumah kayu sederhana, tanpa perabot mewah, telah siap menyambut tamu Silatnas. Mungkin sajian yang disuguhkan tak mewah, tapi ketulusan mereka menerima tamu adalah kemewahan dalam balutan ukhuwah.

Sebutlah mereka, diantaranya, Ummi Nurhayati Jamil, istri dari almarhum Ustadz Manshur Salbu. Nenek 47 cucu ini telah jauh hari merenovasi rumah kayunya. Beliau begitu bersemangat menyambut para tamu. Tak sabar dia ingin bertemu anak cucu tercinta. Plafon-plafon rumah yang mulai jabuk ingin segera diganti sebelum hari-H.

MasyaAllah, mari menarik nafas panjang, mengevaluasi diri kita. Bagaimana sikap terbaik yang sudah kita tunjukkan dalam menyambut perhelatan akbar ini? Inti dari Silatnas bukan hanya pada empat hari official, tapi bagaimana persiapan menjelang hari inti acara, sehingga kegiatan yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan dapat terlaksana dengan sukses.

Jangan lupa untuk  melangitkan doa bagi  para orangtua kita yang telah sepuh. Semoga Allah mempertemukan kita, dan mereka pada kegiatan dinanti-nantikan ini.

Alhamdulillah, saya terpanggil untuk mempertajam mengenang almarhum Ustadz Abdullah Said. Dia adalah teman saya dan guru saya. Saya katakan teman karena masih remaja datang di rumah saya di Parepare dan saya waktu itu turut memboncengnya ke sana kemari. 

Dan, kemudian, takdir Allah Subhana Wa Ta’ala, beliau mengunjungi saya di Yogjakarta ketika berada di Jawa. Dan mengajaknya kelak akan berjuang sama sama. 

Namun tidak seperti itu yang terjadi, punya proses panjang. Aku bukan diundang datang di Gunung Tembak. Tapi Allah menjalankan sendiri saya ke Gunung Tembak dan beliau tidak tahu. Kemudian saya datang di Gunung Tembak. 

Saya menyaksikan banyak peristiwa, bahwa beliau meninggalkan Sulawesi karena sebuah peristiwa. Bahwa kemudian almarhum membikin Gunung Tembak karena perjalanan sebuah peristiwa. Dan itu saya menyaksikan semuanya. 

Dan, takdir Allah Subhana Wa Ta’ala, saya pun diberi tugas untuk memikul perjalanan Hidayatullah sampai hari ini. 

Kami sudah memiliki anak. Pada saat bersama almarhum Ustadz Abdullah Said (kami) masih remaja semuanya. Saya memang tidak terpampang dalam sejarah perjalanan Hidayatullah di Kalimantan. Tetapi perjalanan ini, saya mendahului semuanyan. 

Saya telah mendahului semuanya, baik para perintis maupun pendiri. Bahwa Allah Subhana Wa Ta’ala kemudian memberikan tanggung jawab ini. 

Karena itulah, kami sudah memiliki anak. Beliau juga meninggalkan putra-putri di sini.  Dan kemudian Allah mengembalikannya kembali, asas sejarah ini kepada anaknya, kepada putranya yaitu Bapak Ketua DPP Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq sebagai menantu. 

Ini punya perjalanan panjang. Saya di Mekkah ketika Almarhum sakit. Ustadz Nashirul Haq menjadi mahasiswa bersama Ustadz Naspi di sana dan saya menyaksikannya. 

Kemudian beliau menyerahkan kepada saya SK penunjukan secara resmi untuk memangku Hidayatullah ini. Aku melihat Ustadz Nashirul Haq dan Ustad Naspi di Madinah cuci-cuci piring di luar kamar. Aku berdoa kepada Allah Subhana Wa Ta’ala, semoga kelak beliau ini yang akan mengambil (estafeta) Hidayatullah ke depan. Dan inilah yang terjadi. 

Karena itulah saya bersyukur kepada Allah Subhana Wa Ta’ala, bahwa doa di Tanah Haram telah dikabukan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala. Dan ini adalah merupakan spirit dan aku berdoa semoga keluarga besar kami dan keluarga besar Almarhum tetap meniti perjalanan perjuangan Li ilai kalimatillahi hiyal ulya. 

*) Disadur dari transkrip pidato penutupan Musyawarah Nasional (Munas) V Hidayatullah 2020 pada 29-31 Oktober di Kota Depok, Jawa Barat

26 Oktober 2023
Mengunjungi Bank Induk Sampah Kota Hijau untuk bermitra dalam meminimalisir pembuangan sampah ke TPA.

28 Oktober 2023
Mendapat kunjungan dari Tim Banana and Patners membicarakan skema pengelolaan sampah.

29 Oktober 2023
Tim kesehatan berkoordinasi dengan Dokter Tien Fatimatuzzahra terkait pelayanan kesehatan di Silatnas nanti.

29-31 Oktober 2023
Seluruh Panitia Keamanan Silatnas Putri mengikuti kegiatan Pelatihan PAM Silatnas
Dengan pemateri : Pak Abbas Usman , Pak Sahar, Pak Alfarabi, Pak jaya dari TNI.

1 Nopember 2023
Tim Pubdok mengambil video seruan Silatnas dari ibu-ibu pembimbing sebagai penyemangat bagi seluruh peserta Silatnas.

5 Nopember 2023
Rapat Panitia Silatnas. Cek progress kerja masing-masing Bidang.

Walikota Tidore Kepulauan Capt. Dr. ( Cand ) H. Ali Ibrahim, M.H menerima kunjungan DPW Hidayatullah Malut yang diwakili oleh Sekertaris Ust. Dr. La Ode Ilman, Lc. M.Pd bersama Kadep Ekonomi DPW Ust. Saleh Sukur, S.Pd. di ruang kerjanya pada Rabu, awal November ini (1/11/2022). 

Kunjungan ini dimaksudkan untuk melaksanakan koordinasi terkait agenda pelepasan kafilah peserta Silatnas Hidayatulla dari Maluku Utara yang akan dilaksanakan pada hari hari pahlawan 10 November mendatang di Kampus Pondok Pesantren Tahfidz Hidayatullah Gambesi kota Ternate.

Selain membahas agenda pelepasan kafilah Silatnas, silaturahmi ini juga dimaksudkan untuk mengundang orang nomor satu di lingkup pemerintahan Tidore Kepulauan yang juga merupakan Dewan Pembina Rumah Qur'an Maluku Utara untuk menghadiri acara Silatnas Hidayatullah di Balikpapan pada 23 November 2023 mendatang.

Dalam keterangan yang disampaikan Ust. Saleh Sukur, Walikota Tidore akan melepas keberangkatan kafilah secara resmi.

"Insya Allah Walikota Tikep Pak Kapten Ali Ibrahim akan melepas keberangkatan kafilah peserta Silatnas Hidayatullah Maluku Utara secara resmi dan akan diadakan seremonial besar-besaran di Pondok Pesantren Tahfidz Qur'an Hidayatullah Gambesi Kota Ternate pada tanggal 10 November yang bertepatan dengan hari Pahlawan mendatang " Ungkap Ust. Saleh.

Lebih lanjut Ust. Saleh selaku  kadep ekonomi DPW Hidayatullah Malut yang juga menjabat ketua yayasan madya Hidayatullah Ternate ini menyampaikan terkait jumlah peserta yang akan berangkat menuju Silatnas.

"Adapun jumlah peserta yang akan berangkat dari Maluku Utara menuju Silatnas Hidayatullah mendatang berjumlah sekitar 365 peserta dengan menggunakan kapal Labobar pada tanggal 11 November. Peserta tersebut merupakan gabungan dari seluruh unsur DPW, DPD dan Rumah Qur'an serta para santri tahfidz Qur'an Hidayatullah se Maluku Utara " lebih lanjut ujar Ust. Saleh.

Sementara itu Walikota Tidore menyampaikan dukungan dan kebanggan atas pelaksanaan Silarnas Hidayatullah serta kesiapan untuk melepas peserta juga kesediaan beliau menghadiri secara langsung gelaran Silatnas Hidayatullah mendatang.

"Selain sebagai Walikota Tidore Kepulauan, saya yang diangkat menjadi pembina Rumah Qur'an Maluku Utara pastinya sangat merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar Hidayatullah dan mendukung penuh kegiatan Silatnas Hidayatullah di Balikpapan mendatang,” kata Walikota.

“Untuk itu sebagai bentuk kebanggan dan dukungan saya, maka saya akan melepas keberangkatan kafilah peserta Silatnas Hidayatullah secara resmi dengan acara seremonial dan juga insya Allah saya akan hadir langsung di acara Silatnas Hidayatullah guna menjawab undangan panitia yang baru saja disampaikan ke saya,” lanjut Walikota Tidore ini.

Untuk diketahui bahwa kegiatan Silaturahim Nasional ( Silatnas ) Hidayatullah akan dilaksanakan pada 23 - 26 November 2023 yang akan dihadiri oleh pengurus, kader, warga dan simpatisan Hidayatullah se Nusantara. Kegiatan dimaksuda diagendakan dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi Widodo serta dihadiri oleh bebera menteri dan juga para tokoh Nasional.

Umat Islam tentu harus sadar bahwa tantangan dakwah itu semakin banyak. Hal ini telah diprediksi oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, "khairul qurun, qarni", yang maksudnya sebaik-baik masa adalah kurunku, kemudian setelahku. 

Jelas itu menandakan bahwa sebuah kurun atau masa, kala semakin menjauh dari masa Rasulullah SAW, maka akan semakin berat tantangannya.

Rasul juga mengatakan Islam itu dulu asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana dulu dimulai dalam kondisi asing. Hal itu juga menandakan bahwa daur perubahan dan kondisi yang ada dalam Islam otomatis juga kaum muslimin juga akan mengikuti pola itu. Artinya semakin hari tantangan dakwah akan semakin berat sebelum nanti datangnya Nabi Isa dan kiamat tiba.

Generasi muda Hidayatullah harus memahami hal ini, bukan dengan melemah semangatnya, tetapi persiapan mental, spiritual dan intelektual yang andal tentunya.

Pemuda Hidayatullah yang bertekad menekuni manhaj nabawi secara konsisten. Ini pasti bertemu tantangan, yang tidak saja eksternal, tetapi juga internal dalam diri kaum muda Hidayatullah itu sendiri.

Tantangan itu semakin nyata kala kita ingin menampilkan Islam dalam kenyataan, bukan semata pernyataan. Sebagaimana pesan Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, jelas ini akan semakin jelas tantangannya. Islam manifes dalam ekonomi, politik, perdagangan, keuangan, budaya dan seni, akan semakin kuat rintangan yang harus dihadapi.

Langkah antisipasi untuk sukses mengerek bendera peradaban adalah jelas.

Pertama, berilmu. Ini pesan Allah dalam wahyu pertama. Iqra' Bismirabbik. Semua para Nabi itu kala memulai dakwah membekali diri dengan keilmuan. 

Wahyu itu ilmu. Setelah menerima wahyu barulah berdakwah. Islam itu mulia dan tidak mungkin kemuliaan Islam tanpa ilmu alias bisa diusung oleh kebodohan.

Kedua, modal amal. Jadi terus berlatih mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Sahabat Nabi itu belajar ayat itu 10 ayat dan 10 ayat, sehingga memahami apa isinya dan mengerti bagaimana mengamalkannya. Jadi, cicillah ilmu menjadi amal.

Ketiga, membangun karakter shiddiq, amanah, tabligh, fathonah, harus jadi pakaian Pemuda Hidayatullah dalam dakwah. Jadi, pemuda harus anti terhadap malas.

Artinya Rasulullah SAW itu rajin, pekerja keras.

Keempat, sabar. Menekuni jalan dakwah berarti mengikuti manhaj nubuwwah harus siap sabar.

Tidak ada jalan mulus dan karpet halus untuk kader-kader dakwah. Karena memang Nabi dan Rasul adalah orang yang paling berat ujian dalam menekuni dakwah.

Kader muda Hidayatullah tetap harus optimis, jalan kemenangan itu ada, insha Allah.

Mulai dari sekarang gali sirah Nabi, tentang bagaimana beliau memimpin.

Memimpin itu memberi teladan saat memberi arahan dan memberi intruksi. Kemudian pandai mendistribusikan amanah kepada kader potensial, walau awalnya mungkin tidak tampak sama sekali.

Selanjutnya berani terbuka dan tidak anti terhadap masukan atau kritik. Kemudian, sabar dan sayang kepada yang dipimpin. Itulah yang harus kader muda Hidayatullah pahami dengan sebaik-baiknya.

Tantangan dakwah memang semakin berat, tetapi generasi muda Hidayatullah harus siap menghadapinya. 

Dengan persiapan mental, spiritual, dan intelektual yang andal, serta dengan mengikuti manhaj nabawi secara konsisten, maka insya Allah generasi muda Hidayatullah akan mampu mewujudkan cita-citanya untuk membangun peradaban Islam yang gemilang.*

Jelang Silatnas Hidayatullah 2023, giat pendidikan di lingkungan Hidayatullah tetap menggeliat. Tak cuma di ruang kelas, kegiatan pendidikan juga berlangsung di lapangan. Misalnya, santri Pondok Pesantren Ahlus Shuffah melakukan kegiatan pembudidayaan cabe di perkebunan Hidayatullah Farm, Desa Wisata Teritip, Gunung Binjai, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad (5/11/2023). Ahlus Shuffah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

[Foto dan Teks: Muh. Abdus Syakur/Madig Silatnas Hidayatullah]

Ustadz Arfan tersenyum saat melihat hujan turun di luar Masjid Ar-Riyadh. Ia pun tak lupa mengucapkan syukur kepada Allah SWT.

"Alhamdulillah, semoga hujan ini membawa berkah bagi kita semua," ucapnya sebelum memulai aktivitas rutin menyampaikan laporan dan rencana kegiatan persiapan Silatnas Hidayatullah 2023.

Ustadz Arfan sebagai seorang doktor tak pernah lelah mempersiapkan helatan Silatnas berjalan dengan sebaik mungkin. 

"Setiap pagi, ia selalu membacakan laporan dan mengumumkan rencana aksi hari itu kepada para rekannya," ujar seorang jama'ah Ar-Riyadh kepada media ini.

Pagi itu (4/11/23) Ustadz Arfan menyampaikan beberapa hal penting. Pertama, listrik dan PDAM telah diurus oleh Ustadz Irwan Budiana. Kedua, beberapa kepala daerah akan hadir dalam pembukaan Silatnas yang akan diadakan sore nanti. Ketiga, akan ada pernikahan dan wisuda yang akan digelar pada akhir pekan ini.

Pesan Motivasi

Ustadz Arfan menutup laporannya dengan sebuah pesan motivasi. Ia mengajak para rekannya untuk selalu semangat dan bermotivasi dalam melakukan kegiatan amal sholeh.

"Mari kita terus bekerja keras untuk sukses Silatnas dan memberi warna kebaikan bagi umat dan bangsa. Semoga Allah SWT selalu memberkahi usaha kita," ucapnya.

Dan, setiap usai laporan serta menyampaikan rencana kegiatan. Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad tidak jarang naik dengan memberikan koreksi, arahan baru, bahkan motivasi yang mendorong semua jama'ah semakin menyala semangatnya di bawah komando Ustadz Dr. Arfan AU.

Kalau ditanya, apa standar kebahagiaanku? Aku hanya punya satu jawaban yang bisa mencakup seluruh standar kebahagiaan, walaupun tolok ukur individu mungkin bervariasi. Yaitu, terjaganya keimanan di dalam diriku.

Betapa sering Allah berikan aku kelebihan sesuatu, yang menurut kebanyakan orang, itu bisa menjadi sumber kebahagiaan, tapi karena imanku sedang turun, hal tersebut justru menjadi sumber kesedihan. 

Allah berikan aku anak yang banyak, dilimpahkan kesehatan, berikan pasangan yang support berbagai amanahku, Allah bukakan jalan hingga aku bisa mengembangkan passion-ku, bisa tinggal di kampus peradaban Ummulqura (impian kebanyakan orang), diberikan kesempatan untuk dekat dengan orangtua, punya banyak saudara, memiliki tim kerja yang solid, dan banyak lainnya.

Tapi, apakah semua itu membuatku selalu merasa bersyukur? Tergantung imanku. Jika imanku sedang stabil, maka semua itu menjadi kebahagiaan. 

Sebaliknya, jika imanku sedang porak poranda, maka semua itu justru bisa menjadi bahan keluhan yang oleh nafsuku divalidasi sebagai suatu hal yang wajar.

Anak anak menggelayut dikala letih, banyak pertanyaan, terasa mengesalkan. Diskusi dengan pasangan tak jarang berujung tanpa solusi. Masukan-masukan dari tim kerja seperti serangan genosida yang meluluh lantakkan stok kesabaran. 

Passion yang akhirnya menjadi amanahku terasa menjadi beban. Demikianlah, semua terasa salah di mata, jika imanku sedang tidak baik-baik saja.

Namun, saat batang iman sedang kokoh, betapa senyum kebahagiaan berbunga mekar dengan suburnya. Semua hal yang terjadi dilewati dengan tenang. Air mata tetap mengalir, namun lisan jauh dari keluhan.

Hati pun begitu mudah menemukan hikmah dari setiap ketidaknyamanan. Maka, jika berbicara tentang standar kebahagiaan, dan kesusahan hidup, parameternya adalah kondisi keimanan, bukan ekspektasi manusia dan kalkulasi matematis belaka.

Namun karena kondisi keimanan manusia itu fluktuatif (naik turun), maka harus selalu dikawal. Rasulillahi shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada satu hati pun kecuali di sana ada mendungnya, seperti mendung yang menutupi rembulan. Jika saat rembulan bercahaya, tiba-tiba mendung menutupinya, maka gelaplah. Dan jika mendung itu menyingkir darinya rembulan pun bercahaya (lagi)” (HR. Ath-Thabarani) 

Semoga Allah senantiasa menjaga keimanan kita, agar kita tak lagi lelah mencari kebahagiaan semu.

This is a Shorthand story for reviewPublished stories don't show this section.

GIVE FEEDBACK TO THE STORY OWNER

This feature is not available in landscape. Please rotate your device.

GIVE FEEDBACK TO THE STORY OWNER

More than 4 characters is required
Name must contain only letters, hyphens, apostrophes, full-stops and spaces
Wait, that does not look like a valid email address!
Your feedback was sent to the story owner.
There is been an issue with submitting your feedback.

TEST ON ANOTHER DEVICE

This feature is not available in landscape. Please rotate your device.

TEST ON ANOTHER DEVICE