Sangat Spesial rasanya, tahun 2023 Kemenag memberikan tema Hari Santri:

"Jihad Santri Jayakan Negeri".

Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas  menuturkan bahwa “Jihad santri secara kontekstual adalah jihad intelektual, di mana para santri adalah para pejuang dalam melawan kebodohan dan ketertinggalan. Santri juga turut berjuang dan mengambil peran di era transformasi digital,” ujar Gus Yaqut, sapaannya, seperti dirilis oleh website Kemenag.go.id.

Diksi jihad intelektual bagi santri Hidayatullah adalah pengejawantahan makna Iqra' Bismirabbik dengan semangat penuh. Dahulu di Gunung Tembak, karena begitu intensnya introdusir tentang kandungan surat Al-Alaq oleh KH Abdullah Said, sampai muncul istilah "keracunan Al-Alaq".

Efeknya pun terasa, para santri senior seperti roket yang diluncurkan, begitu cepat sampai ke titik-titik penting di seluruh pelosok negeri untuk membangun pesantren di mana mereka ditugaskan.

Dalam konteks kekinian, maka terang dan sangat jelas, jihad santri secara intelektual adalah menjadikan Iqra' Bismirabbik sebagai starting awal membangun negeri. Dalam bahasa Kemenag bagaimana jihad santri dapat menjayakan negeri.

Harapan dari Menteri Agama sangatlah relevan. Mengingat Hari Santri merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945.

Resolusi ini berisi seruan kewajiban berjihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan melawan pasukan penjajah, hingga memuncak pada perlawanan 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kalau kita korelasikan dengan eksistensi santri hari ini, tema tahun 2023 sangatlah mungkin untuk kaum santri wujudkan.

Berdasarkan laporan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, ada 4,37 juta santri yang tersebar di seluruh Indonesia pada tahun ajaran 2020/2021.

Para santri itu tersebar di 30.494 pondok pesantren. Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah santri terbanyak pada periode tersebut. Jumlahnya mencapai 970.541 santri atau 22,19% dari total santri di Tanah Air.

Kalau jumlah santri yang 4,37 juta itu hari ini rentang umurnya 13-20 tahun, maka pada 2045 mereka akan berada pada posisi penting dalam pembangunan negeri dengan tingkat kekuatan fisik ideal, pada usia 33 hingga 42 tahun.

Dalam arti yang lain, Hari Santri harus jadi pemantik kesadaran menyemai generasi siap jihad untuk kejayaan bangsa Indonesia. Pesantren Hidayatullah dapat mengambil peran itu secara maksimal.

Ya Allah turunkanlah hukuman-Mu atas kaum Yahudi yang telah melakukan kezhaliman dengan membunuh saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina, Ya Allah hukumlah mereka sesungguhnya mereka tak mampu melemahkan-Mu.

Ya Allah cerai beraikan mereka porak porandakan kesatuan mereka dan turunkanlah balasan-Mu atas mereka.

Ya Allah kumpulkan dan binasakanlah mereka dan jangalah Engkau sisakan sedikitpun dari mereka, Ya Allah turunkanlah atas mereka dan semua pihak yang membantu mereka balasan-Mu yang tidak dapat ditolak oleh kaum pembuat kezhaliman.

Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin yang lemah di Palestina, Ya Allah sayangi dan kasihilah mereka dan keluarkanlah mereka dari isolasi dan keadaan sempit yang mereka alami saat ini.

Ya Allah terimalah syuhada mereka dan sembuhkanlah yang luka dan sakit dari kalangan mereka, Ya Allah tetaplah bersama mereka dan jauhilah musuh-musuh mereka karena tiada daya dan kekuatan bagi mereka kecuali dari-Mu

Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu buat kaum mujahidin di Palestina, Ya Allah tolonglah mereka menghadapi kaum Yahudi dan penolong-penolong mereka dari kalangan kuffar dan kaum munafik.

Ya Allah tepatkanlah bidikan mereka, rapatkanlah shaf perjuangan mereka dan satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran Ya Hayyu Ya Qayyum.

اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُودِ الْمُعْتَدِيْن الَّذِيْنَ قَتَلُوا إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ فِلِسْطِيْن ، اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ فَإِنَّهُمْ

لاَ يُعْجِزُونَكَ ، اللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَاجْعَلِ الدَّائِرَةَ عَلَيْهِمْ ، اللَّهُمَّ أَحْصِهِمْ عَدَداً

وَاقْتُلْهُمْ بَدَداً وَلاَ تُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَداً ، اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْهِمْ وَعَلىَ مَنْ عَاوَنَهُمْ بَأْسَكَ الَّذِي لاَ يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْن

اللَّهُمَّ أَنْجِ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ الْطُفْ بِهِمْ وَارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ

مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ

وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ

اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ فِلِسْطِيْنَ اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِيْنَ

، اللَّهُمَّ سَدِّدْ سَهْمَهُمْ وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا حَيُّ يَاقَيُّوْمُ

Semakin berkurang angka dalam flyer H- yang disebar panitia, semakin greget pula kami menyambut Silatnas. Di saat obrolan santai, saya dan teman-teman seringkali melontarkan berbagai ekspektasi, berwacana terkait perencanaan kami di momen Silatnas 2023 nanti. 

Suatu keniscayaan bahwa momen Silatnas akan menjadi sejarah. Yang kami pahami, untuk momen bersejarah nanti bukan hanya kesiapan materi yang harus kami matangkan, tapi juga moral dan mental.

Saya yakin, sejarah yang akan ditulis nantinya sangat dipengaruhi oleh kesan yang didapat penulis itu sendiri terhadap Silatnas ketika menyaksikannya, dan setiap saksi akan memilih diksinya sendiri untuk menuliskan sejarah Silatnas.

Kesan hebat sudah saya dapatkan pada hari hari sibuk persiapan ini, namun masih samar model sajak yang akan ditorehkan Silatnas 2023 sejak hari H. Sehingga, besar harapan saya pada seluruh kader Hidayatullah, pada kader Hidayatullah di Kalimantan Timur selaku tuan rumah, terkhusus pada seluruh jiwa yang tengah bergerak mempersiapkan Silatnas di kampus Hidayatullah Gunung Tembak untuk lebih semangat lagi menyambut Silatnas.

Bukan sekedar berjumpa, berinteraksi, melayani tamu, namun setiap detiknya ada citra yang terpancar. Nah, di saat itulah citra Hidayatullah dipertaruhkan.

Pancarkan citra terapik! Bersikaplah selayaknya kader Hidayatullah pada tataran iman versi terbaik kita. Jangan merasa tidak penting, apalagi sampai beropini "aku gak ikut kerja/aku gak hadir juga gak ngaruh, masih banyak yang lain”.

Di panggung ini masih ada sudut yang kosong dan harus diisi demi penyempurnaan atas penorehan sejarah Silatnas. Peran mungkin bukan raja, mungkin bukan ratu, tapi lebih dari itu, kitalah pionir bagi kesuksesan Silatnas Hidayatullah 2023.

Maka lewat tulisan ini, saya menyampaikan harapan, bahwa, pada Silatnas Hidayatullah 2023 setiap partisipan mampu bahkan harus mampu memancarkan citra terbaik Hidayatullah agar kemudian semakin didekatkan pada cita cita membangun peradaban Islam.

Sebagai organisasi massa, Hidayatullah telah menetapkan jati diri dalam gerakannya, satu di antaranya adalah wasathiyah.

Salah satu arti dari wasathiyah adalah pertengahan, yakni berada pada posisi tengah-tengah. Tidak berada di dua sisi berlawanan (terlalu ke kiri atau terlalu ke kanan).

Makna lain, wasathiyah juga berarti terbaik atau termulia. Bisa juga bermakna adil, seimbang (equal).

Dalam skala orientasi hidup, maka wasathiyah berarti hidup seimbang. Tidak menomor satukan dunia dan melupakan akhirat. Sebab sikap itu akan merugikan dan menyengsarakan.

Pun sebaliknya, tidak hidup hanya untuk urusan ibadah terus-menerus dan melupakan kebutuhan-kebutuhan duniawi, seperti memiliki skill, mampu bekerja dan menafkahi keluarga.

Berkaitan dengan hal tersebut, Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab “Kaifa Nata’amal Ma’as Sunnatin Nabawiyyah” menerangkan bahwa manhaj Islam dibangun atas prinsip keseimbangan.

Seimbang antara ruh dan jasad, antara akal dan qalbu, antara dunia dan akhirat, antara idealisme dan fakta, antara teori dan praktek, antara yang ghaib dengan yang kasat mata, antara kebebasan dan tanggung jawab, antara perorangan dan kelompok, antara ittiba dan ibtida, dan seterusnya.

Oleh karena itu sikap utama kader Hidayatullah dalam hal kehidupan sosial kemasyarakatan adalah sangat jelas, berimbang, adil dan equal.

Dalam hal aqidah, kader Hidayatullah teguh pada aqidah Islam, namun tetap toleran terhadap keyakinan lain.

Kita bersyukur menjadi Muslim dan kita bangga bahkan merasa superior sebagai Muslim. Namun, Islam bukanlah ajaran yang memaksakan kehendak, sehingga orang yang berada dalam keyakinan lain harus dipaksa atau diperlakukan secara tidak adil.

Hal ini karena sifat ajaran Islam memang untuk orang-orang yang mau berpikir, sadar dan merasa yakin, Islam sebagai jalan hidup.

Sikap kita sebagai Muslim terhadap orang yang berbeda keyakinan adalah 1) mengakui keberadaannya, 2) tidak mengganggu keyakinannya, 3) menghormati mereka sebagai sesama makhluk manusia.

Sebab Alquran telah menegaskan dalam hal perbedaan agama, bahwa untukmu agamamu dan untukku agamaku (QS. 109: 6).

Sejauh sikap wasathiyah ini menjadi komitmen segenap kader Hidayatullah dalam berdakwah dan bermuamalah maka insha Allah bangunan toleransi yang kokoh di negeri ini dapat kita rawat bersama.

Situasi aman dan sentosa hanya mungkin tercipta jika satu sama lain saling menghargai. Dan, saat itu tercipta, maka kemajuan dakwah dan kemajuan bangsa dalam kebaikan dapat kita wujudkan bersama.*

Subhanallah! Semalam Abah Zain Bilang “Saya Tunggu di Silatnas” Pagi Ini Jadi Kenyataan

Judul di atas adalah ungkapan Ustadz Sulaiman Hasan, pria murah senyum asal NTT yang berhasil menyabet predikat “Mumtaz” dalam gelaran Daurah Marhalah Wustho (DMW) di Magetan, Jawa Timur (5-8 Oktober 2023).

Sebagai kader ia datang ke arena DMW dengan bekal sami’na wa atho'na. Setelah itu ia hanya menjalani sesi demi sesi sesuai aturan.

“Mulai daftar sebagai peserta, kemudian ikuti pretest Jati Diri dan Manhaj, selebihnya aktif di ruangan tanpa absen, termasuk kegiatan ruhiyah di masjid. Selebihnya ya, biasa, seperti hari-hari di pesantren,” ungkapnya.

Namun suasana “aneh” mulai menyerbu dadanya kala malam terakhir pelaksanaan DMW, Ustadz Sulaiman Hasan bertemu Ustadz Zainuddin Musaddad dan mengatakan bahwa harus datang ke Silatnas Hidayatullah 2023. “Saya tunggu di Silatnas ya,” ujar Ustadz Zain.

Sejenak, Ustadz Sulaiman Hasan terdiam, kemudian tersenyum. Malam kian larut semua beristirahat.

Dan, esok pagi, tanpa ada yang menduga, termasuk Master Of Training DMW, Ustadz Sholeh Usman, M.I.Kom, sebuah kejutan mengguncang suasana aula Pesantren Hidayatullah Magetan menjadi penuh rasa haru dan bangga.

“Peserta terbaik dengan raihan predikat Mumtaz akan kami berikan tiket gratis ke Silatnas,” ujar Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur.

Seluruh peserta dalam ruangan pun memekikkan takbir. Bahkan teman Ustadz Sulaiman Hasan, yakni Ustadz Nasrullah Zuhdi tak kuasa membendung air mata karena haru.

“Mereka adalah kader muda lembaga, mereka hari ini meraih predikat mumtaz artinya mereka bersungguh-sungguh. Apresiasi ini saya kira layak, karena mereka adalah calon pelanjut gerakan dakwah di Hidayatullah ini,” tutur Ustadz Amun Rowi pasca acara penutupan.

Bagi kader-kader Hidayatullah berangkat dan hadir di Silatnas Hidayatullah 2023 adalah sebuah kerinduan yang begitu mendalam.

“Saya tidak pernah menduga. Tetapi ucapan Abah Zain semalam itu, akhirnya menjadi sebuah isyarat bagi saya, bahwa saya diizinkan oleh Allah untuk berangkat ke Silatnas. Tak bisa saya gambarkan, betapa saya snagat bahagia,” ucap Ustadz Sulaiman Hasan.

Dalam perjalanan pulang dari Magetan ke Jakarta, Ustadz Sholeh Usman, M.I.Kom berulang kali menyebut peristiwa itu. “Masya Allah, kalau Allah berkehendak, semua begitu mudah terjadi,” tuturnya berulang kali di kereta Matarmaja dari Madiun ke Jakarta.*/MIN

Dalam sepakbola, selain keandalan materi pemain, juru taktik adalah kunci. Merekalah orang orang di balik kemenangan pada setiap laga yang digeluti. Demikian pula dalam membangun peradaban, selalu ada yang tekun bergerak tanpa lelah, meski seringkali mereka berada di ruang sepi, diam diam, tak banyak bicara, tanpa sorotan kamera. Mereka adalah para "tukang peradaban". Tulisan Najmatun Nahdhah berikut merekam kiprah kiprah itu: 

Hari hari menjadi pengajar adalah hari-hari yang menghabiskan energi. Pagi-pagi sudah disibukkan dengan urusan rumah, sampai di sekolah dituntut untuk memutar otak, bagaimana menyiasati agar pelajaran tidak membosankan, murid paham, dan target tercapai. Sebelum masuk kelas wajib belajar dulu, agar murid-murid terpuaskan hasrat ingin tahunya.

Di dalam kelas, guru harus pandai mengelola emosi. Selelah apapun, semalas apapun, sebermasalah apapun, seorang guru tidak bisa meng-on kan mode: "maaf, lagi sensi" atau "lagi gak mood, jangan ganggu" ketika sedang berhadapan dengan murid.

Guru harus baik; baik akhlaknya, penampilannya, tutur katanya, cara mengajarnya. Dan untuk menjadi baik itu berat, butuh berkali-kali jatuh bangun, butuh tenaga ekstra dan ide yang luar biasa. Itulah mengapa, dalam masa mencoba menjadi "guru yang baik" inilah rasa lelah dan jenuh kerap menyerang. Pergi pagi, pulang menjelang ashar. Fisik dan psikis sama suak-nya. Momen ketika tiba di rumah itulah terkadang mental kita kolaps, diri ini dihampiri perasaan kitalah yang "terlelah sedunia".

Satu hal sederhana yang memaksa mental yang kolaps ini terbangun adalah ketika semalam, diperjalanan menuju ke rumah bunda melintasi areal asrama putra, betapa trenyuhnya saya menyaksikan sekumpulan bapak bapak tukang yang juga warga Hidayatullah (a.k.a kuli bangunan) sedang bekerja membuat parit di tepi jalan.

Mereka masih di sana, bergelut dengan tanah berlumpur dan air yang menggenang sisa hujan seharian, padahal kala itu jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Sepanjang jalan hingga tiba di rumah, yang terbayang di kepala adalah betapa lelahnya mereka. Seharian telah bekerja keras, namun ketika seharusnya mereka beristirahat dan meluruskan punggung, mereka masih tetap bekerja. Bahkan, mereka masih lantang mengucap salam, dan menyapa dengan ceria ketika kami melintas.


Seketika rasa malu menggayut di hati. Orang-orang ini, jika mereka ikhlas maka luar biasa pahala yang diperolehnya. Yang diperbaiki adalah sarana umum, yang setiap hari dilalui berkali-kali oleh para santri yang hendak shalat berjamaah.

Orang-orang ini, bahkan ada yang datang dari luar daerah, rela berpisah dengan keluarga demi rampungnya megaproyek menyambut silatnas, memuliakan tamu-tamu, saudara seiman seperjuangan.

Orang-orang ini, kadang dianggap sepele padahal mereka yang kerjanya paling nyata. Tidak butuh sanjung puja, mereka puas hanya karena karyanya dinikmati.

Orang-orang ini, mungkin tidak pandai berteori dan menggurui, tapi bisa jadi amal jariahnya mengalahkan kami, yang mengklaim diri sebagai para pendidik.

Ketika saya merasa menjadi orang terlelah sedunia hanya karena sibuk berteori di depan kelas; menyuruh ini itu, menasehati ini itu, dan mengemukakan ide-ide, ada orang lain yang bekerja dalam diam, merealisasikan teori keikhlasan dengan kerja nyata, merumuskan bahagia dengan sederhana. Tak mesti dilihat orang, lalu dipuji dan dicap 'baik'. Tapi mereka rela menggadai waktu istirahatnya, mengabaikan sakit tulangnya, melawan kantuknya, demi memberi manfaat kepada orang banyak.

Menjadi guru, disadari atau tidak kadangkala menjadi bias antara 'menjadi baik atau menjadi munafik', sebab terkadang kita mengajarkan sesuatu yang kita sendiri tidak melaksanakannya. Kita menampilkan sisi-sisi yang "ada apanya" bukan "apa adanya" alias pencitraan. Astaghfirullahal 'adzhiim..

Malam itu saya belajar, satu hal sederhana yang telah lama saya simpan teorinya dalam memori namun tidak dijiwai, bahwa antara memiliki ide-ide dan melaksanakan ide-ide itu jauh berbeda.

Yang terbaik adalah jadilah keduanya, agar tidak timpang jalannya, sebab perjalanan meniti shirathal mustaqim butuh keseimbangan.

Ada banyak evaluasi yang perlu ditindak lanjuti dari Perhelatan Akbar Silatnas Hidayatullah 2018 lalu. Di antara yang perlu menjadi perhatian besar adalah bagaimana pengelolaan sampah yang belum tertangani dengan baik. Pada Silatnas lalu kita sudah mengkampanyekan slogan zero waste, dkk, namun memang harapan tanpa syiar dan edukasi adalah nonsense.

Dalam rapat panitia silatnas, Ustadzah Miladiyah menegaskan bahwa, Poin of viewnya adalah peduli terhadap masalah sampah merupakan bagian dari iman, sebagaimana yang termaktub di dalam QS.Ar-Rum: 41:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menyebutkan keterkaitan antara 'limbah' kita dan ketaqwaan, kebaikan, tanggung jawab, keimanan.  Belum lagi hadits yang paling populer disampaikan gurunda saat kita nyantri dulu, bahwa iman itu ada 70 cabang. Cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan ( adza' ) dari jalan. Limbah kita adalah adza’.

Ayat, dan hadist di atas sepatutnya menjadi landasan tauhid yang  mampu menimbulkan kesadaran di dalam diri kita. Bahwa ini perintah dari Allah, maka memiliki perhatian dan kepedulian terhadap persoalan sampah adalah bagian dari manifestasi keimanan. Demikian beliau menekankan untuk menjadi perhatian bersama.

Subhanallah, mari sejenak kita membayangkan, jika yang hadir dalam Silatnas nanti tercapai 20.000 orang, bisa dibayangkan berapa sampah yang dihasilkan per hari baik organik maupun non organik. Sementara fakta hari ini,  sampah yang masuk ke TPA Manggar Balikpapan Timur 380 sampai 420 ton per hari. Sehingga kapasitas penampungan di tempat pembuangan akhir itu akan mendekati overload. Diperkirakan usia pakainya hanya tinggal 3 tahun. ( dari artikel berita lintasbalikpapan.com yang dirilis pada 22 feb 2023 ). Dari sampah-sampah yang masuk itu hampir 70 persennya adalah dari limbah rumah tangga.

Dari fakta tersebut, tentu kita tidak ingin perhelatan akbar yang sarat akan nilai-nilai kebaikan, harus menyisakan kemudharatan hanya karena perkara sampah yang tidak mampu kita kelola.

Alhamdulillah follow upnya, panitia bergerak cepat mencari solusi, di antaranya mengadakan audiensi dengan Bang Herry Wijaya selaku CEO Banana and Patners yang merupakan startup Balikpapan dengan fokus bisnis pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan ekonomi sirkular. Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Panitia Silatnas Putri, Ustadzah Husnaini Halim, bersama tim yakni Ustadzah Erni Kartika,  Ustadzah Miladiyah, dan Ustadzah Ramlah As’ad. Panitia Silatnas menyampaikan keinginannya untuk  berkolaborasi dengan starup tersebut dalam even Silatnas nanti, dan harapan besarnya setelah silatnas kerjasama ini masih  berkelanjutan. Alhamdulillah beliau sudah pernah datang memberikan edukasi terkait pengelolaan sampah organik dan non organik. InsyaAllah masih akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya, untuk lebih fokus pada teknis pengelolaannya.

Semoga misi kebaikan ini dapat tersampaikan kepada seluruh peserta Silatnas, agar rencana ini dapat terwujud sesuai harapan.

Ustadzah Ramlah As’ad (Alumni angkatan pertama MA raadhiyatan Mardhiyyah), dalam percakapan di grup Whatsapp PIC Alumni RAMAPI menyampaikan permohonannya kepada para ketua angkatan, agar memberikan support terhadap kampanye tentang sampah ini.

”Semoga proyek 'persampaan' ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. Ayo take action untuk momentum kebangkitan peradaban Islam”

Dai adalah komunikator, ini dalam tinjauan ilmu komunikasi. Tetapi tidak semua komunikator adalah dai. Artinya, dai harus mampu berkomunikasi dengan baik dan efektif dalam misi utamanya, mengajak manusia kepada jalan Allah melalui pesan-pesan, baik verbal maupun perbuatan.

Dibanding komunikator dalam ilmu komunikasi, dai jauh lebih menarik, karena membawa misi kenabian, yang mensyaratkan tidak saja kecerdasan kognisi, tetapi juga kemampuan merasakan indahnya ajaran Islam.

Komunikator itu baik atau tidak, indikasinya sederhana. Yakni kala pesannya diterima dan ditindaklanjuti oleh komunikan (audiens). Tetapi dakwah para dai tidak sebatas itu, karena pesan baru dikatakan sampai saat indahnya ajaran Islam memancing orang lain mau menjalankan perintah Allah dan Rasul secara langsung.

Sebagai permisalan (tanpa maksud merendahkan sebuah profesi). Sebuah perusahaan punya komunikator bernama PR (public relation). PR bagaimanapun ahlinya berkomunikasi, tetap bukan dai, walaupun dia berhasil dalam misi komunikasinya dengan stakeholder.

Karena ruang komunikasi seorang PR itu terbatas, sangat sementara dan pragmatis (kebutuhan perusahaan). Sedangkan dai mesti mengkomunikasikan pesan penting dengan cara yang baik. Sementara pesannya sangat transenden bagi kehidupan umat manusia.

Bekal

Kalau kita mengacu pada manhaj Nabi SAW, dai itu memiliki beberapa hal yang harus jadi bekal. Pertama, iman. Ini penting agar ia menjadi sosok yang memang merasakan indahnya ajaran Islam. Karena dakwah bukan sebatas kognisi, tetapi juga perilaku bahkan akhlak.

Jadi, dai harus senang membaca Alquran, mentadabburi, mengamalkan dan memperjuangkannya.

Kedua, dai harus mampu membangun komunikasi yang baik kepada Allah secara vertikal melalui kandungan surah Al-Muzzammil.

Seorang dai itu harus membangun komunikasi yang baik secara vertikal sebelum melakukan komunikasi secara horizontal kepada sesama umat manusia. Ini bekal paling inti dan utama, jangan sampai tidak kita perhatikan.

Ini adalah landasan bangunan komunikasi dalam sukses dakwah para dai.

Ketiga, dai harus gemar membaca, sehingga memahami dan benar-benar menguasai materi dakwah yang disampaikan. Jadi, jangan berdakwah pada tema-tema yang tidak kita kuasai, apalagi tidak kita rasakan indahnya dalam kehidupan nyata.

Alquran itu berbicara banyak tema (QS. Al-An’am: 38), secara universal, hingga spesifik dan teknik. Tidak ada satu hal pun yang terlewatkan dari Alquran.

Ayat itu artinya, “Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab.” Mufassir berpendapat bahwa itu menunjukkan Allah mengurus segala-galanya dalam kehidupan ini.

Artinya, kuasai semua itu, maka jangan bosan membaca, membekali diri dengan ilmu-ilmu penting, agar pesan dai bisa dicerna dengan mudah oleh masyarakat. Ini butuh wawasan luas dan karena itu dai itu seperti Ustadz Abdullah Said, benar-benar gila dalam membaca.

Nah, ini penting bagi kader muda Hidayatullah agar mampu tampil sebagai dai yang efektif dalam dakwah, membawa masyarakat pada kehidupan yang progresif dan religius, sehingga Indonesia mampu menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

Silatnas ini momentum kita semua sadar bahwa sebagai dai kita adalah komunikator unggul dan superior dalam dakwah. Karena seorang dai adalah orang yang (idealnya) paling bisa menikmati indahnya ajaran Islam, kemudian tahadduts bin ni'mah kepada umat.

Ustadz Abul A'la Maududi mengaduk-aduk semen campur air dan bebatuan. Ia ditemani Ustadz Risalman dan Ustadz Saiful Anwar Harahap.

Ketiganya sedang melakukan pengecoran (semenisasi) di Kampus Madya Hidayatullah Kabupaten Berau, Kaltim.

Kehadiran mereka di Berau dalam rangka menyukseskan Silaturahim Nasional Hidayatullah 2023. Silatnas ini insya Allah digelar di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak (Gutem), Kota Balikpapan.

Pada kepanitiaan silatnas, ketiga orang itu masing-masing sebagai Sekretaris, Wakil Bendahara I, dan Koordinator Sekretariat & Admin. Lantas, apa hubungan antara amanah tersebut dengan kegiatan pengecoran?

Rupanya, kehadiran mereka di Berau guna menjalin silaturahim dan beraudiensi dengan pengurus pesantren Hidayatullah, tokoh masyarakat, dan pejabat setempat.

Bukan cuma di Berau, silaturahim serupa juga dilakukan Panitia Silatnas Hidayatullah di berbagai kota/kabupaten di Kaltim. Mulai dari Penajam Paser Utara hingga Kutai Timur.

Kegiatan tersebut dalam rangka menggalang dan menguatkan dukungan dari berbagai pihak untuk kesuksesan Silatnas. Berburu "zam-zam", istilahnya.

Dari sekian tempat yang dikunjungi, Berau punya cerita tersendiri. Pasalnya, di Bumi Batiwakkal ini, Ustadz Maududi dkk ikut bekerja bakti.

Ahad pagi itu (1/10/2023) merupakan agenda kerja bakti rutin pekanan para pengurus, guru, warga, dan santri Al-Ihsan Hidayatullah Berau. Tak terkecuali Panitia Silatnas yang datang.

Berstatus sebagai  tamu dari pusat peradaban Hidayatullah di Gutem, tak membuat Maududi cs enggan bekerja bakti.

Justru, dengan penuh semangat, ketiganya bersama awak Madig Silatnas Hidayatullah turut andil dalam semenisasi di depan gedung SMK Al-Ihsan itu.

Tak heran! Warga Hidayatullah pada umumnya, khususnya dari Gutem, sudah menjiwai kerja bakti ibarat "makanan rutin". Saban pekan di Gutem selalu digelar kerja bakti: mulai dari para ustadz senior hingga santri cilik kerap berbaur dalam satu proyek kerja bakti. Bahkan jelang silatnas, kerja bakti digelar setiap hari.

Kerja bakti dan segenap aktivitas kelembagaan yang dijalankan di Berau, bagi Ustadz Maududi cs, merupakan tugas kelembagaan.

"Tidak ada seorang pun di Hidayatullah yang tidak siap ditugaskan," tegasnya mewanti-wanti saat bersilaturahim dengan warga Hidayatullah di Masjid Jabal Nur Hidayatullah Berau, Sabtu (29/9/2023).

Perjalanan ke Berau dari Gutem memakan waktu tiga harian. Terbilang lama sebab rombongan singgah-singgah. Mulai dari Kutai  Kartanegara, Samarinda, Bontang, hingga Sangatta dan Kongbeng (Kutai Timur).

Di sejumlah tempat, digencarkan perburuan “zam-zam” demi suksesnya perhelatan Silatnas Hidayatullah.

Sementara itu, gairah warga dan jamaah Hidayatullah berinfaq untuk silatnas tak terbendung. Baik secara personal maupun secara institusi.

“Masih banyak peluang untuk infaq donasi, baik untuk pembangunan Masjid (Ar-Riyadh Gutem) dan juga tentunya penyelenggaraan silatnas,” ujar Bendahara Silatnas Hidayatullah 2023 Ustadz Fathun Qorib pada satu kesempatan di Gutem.

Laznas BMH Kalimantan Timur (Kaltim) membangun 4 titik sumur bor di Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Balikpapan. Pembangunan sumur bor ini dilakukan untuk mendukung suksesnya Silatnas Hidayatullah yang akan digelar pada bulan November 2023.


Sumur bor ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi puluhan ribu dai se-Indonesia yang hadir dalam Silatnas Hidayatullah, serta ribuan santri dan warga pesantren.


"Alhamdulillah, kami telah merealisasikan pembangunan 4 titik sumur bor di Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Balikpapan. Sumur bor ini dibangun sebagai salah satu kontribusi BMH untuk mendukung suksesnya Silatnas Hidayatullah," kata Kepala BMH Kaltim, Mundzir.
Sumur bor ini memiliki kedalaman antara 50 hingga 60 meter. Proses pengeboran sumur bor ini telah dimulai sejak tanggal 4 Oktober 2023 dan ditargetkan selesai pada tanggal 24 Oktober 2023.


"Kami berharap dengan adanya sumur bor ini dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi seluruh dai, santri, dan warga pesantren," ujar Mundzir.


Sumur bor ini juga diharapkan dapat menjadi sedekah jariyah bagi para donatur BMH yang telah berkontribusi dalam pembangunannya.


"Semoga sedekah air bersih ini dapat mengalirkan sedekah jariyah bagi para donatur BMH," tutur Mundzir.
"Kami sangat berterima kasih kepada BMH Kaltim yang telah membangun 4 titik sumur bor di pesantren kami. Sumur bor ini sangat bermanfaat bagi kami, terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi para santri dan warga pesantren," sambung Arfan AU selaku Ketua Panitia Silatnas Hidayatullah.


Sumur bor ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan santri termasuk dalam even dakwah nasional yang biasa berlangsung setiap 5 tahun sekali.

“Ini salah satu santri saya yang boleh dikatakan nakal juga,”

Ucapan ini disampaikan oleh seorang guru saat menceritakan kelakuan seorang muridnya dahulu. Uniknya, ustadz yang tampak mengenakan pakaian warna putih dengan surban merah itu tidak terlihat marah atau gusar atas perbuatan murid yang diceritakannya. Ia kini justru mengaku bangga dan bahagia.


“Saya merasa berbangga. Saya ingin sedikit ta’aruf-kan (dia) khususnya kepada santri,” ucap guru yang sudah tampak sepuh di hadapan jamaah masjid ar-Riyadh, Balikpapan, beberapa Shubuh lalu.

Menurutnya, sebagai santri senior, sebagian orang tua dan warga atau kader senior Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan sudah sangat paham dan mengenal santri tersebut. Namun mungkin tidak bagi santri yang datang dan mondok belakangan di kampus pesantren yang terletak di ujung timur Kota Balikpapan tersebut.

“Saya kira orang tua di sini sama juga, mungkin heran, kok hebat sekali Pak Nur Wahid ini sudah,” ucapnya. Kini dengan nada sedikit memuji murid sekaligus membocorkan nama santri yang diceritakan itu.

Meski dianggap santri “nakal” tetapi kenakalan menurut sang ustadz masih “dimaklumi” oleh guru-guru yang mengajar di awal perintisan Hidayatullah dahulu.

“Nakalnya itu ya berenang di empang, tidak masuk sekolah. Apalagi memang waku itu tidak ada (bangunan) sekolah, tapi ada waktu belajar, utamanya setelah Maghrib,” terangnya menjelaskan kondisi pendidikan di pesantren masa silam.

“Pernah saya temukan itu tangannya tembus masuk kail di sini, dia mancing (trus) masuk kail. Ah kamu ini. Sambil saya pegang-pegang tangannya begini,” ucap sang guru yang tak lain adalah Ustadz Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah.

Selain mengenang beberapa kisah bersama murid-murid yang pernah diajarnya, Ustadz Abdurrahman lalu membocorkan “rahasia” sukses para santri lawas tersebut. Diakui, pertumbuhan Hidayatullah hingga mencapai 600 lebih kampus yang membentang di seluruh pelosok Indonesia itu tak lepas dari kiprah para ustadz yang dulu nyantri ala kadarnya itu.

“Saya benar-benar salut dengan apa yang dia katakan itu. Pokoknya taat-taat saja di tempat ini. Eh, ternyata benar, sudah hebat sekali sekarang,” lanjutnya tampak tersenyum.

Menurutnya, justru ketaatan santri itulah yang paling mahal dan nilai paling berharga dari seluruh proses pendidikan yang ada. Ketaatan adalah wujud keshalehan sekaligus keberhasilan murid yang belajar.

“Melihat santri di sini, seperti anak PUZ yang tumbuh begitu, anak STIS yang saya perhatikan dan sering tampak di masjid dan di lapangan, itu semua semoga bertumbuh tambah hebat shaleh pintar dan gagah-gagah,” ucapnya memberi contoh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan dan program unggulannya, Pendidikan Ulama Zuama (PUZ).

“Inilah yang dimaksud al-Qur’an itu “yu’jibuz zurra’a”. Gunung Tembak menjadi persemaian bibit kader yang bertumbuh seperti ini kemudian bisa dikirim (tugas dakwah),” ucapnya menerangkan kandungan surah al-Fath (48] ayat 29

Terakhir, Pemimpin Umum Hidayatullah mengutip pesan Ustadz Abdullah Said Rahimahullah yang mengatakan bahwa kalau ritme Hidayatullah membangun mengkader seperti ini bisa terus dipertahankan dan mengikuti perjalanan zaman, maka kelak nanti akan lahir ahli-ahli di bidang masing-masing.

“Karena Islam pernah betul-betul memimpin peradaban dunia, apa yang tidak dimiliki oleh Islam? Benar-benar secara sempurna pernah memimpin peradaban dunia, filosof pernah hadir filosof paling besar, saintis pernah hadir saintis besar, dan sebagainya,” tutupnya.

Untuk diketahui, Nur Wahid sekarang telah malang melintang berdakwah di beberapa pelosok daerah. Kini, ia diamanahi sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

03 Oktober 2023
Sie Kesehatan menjadi penggerak pada kegiatan Kerja bakti di area Puskesmas Bantu, yang akan menjadi Pusat Layanan Kesehatan Peserta Silatnas Putri.

07 Oktober 2023
Santri Putri melakukan estafet pengangkatan bata hingga malam hari, untuk mempercepat proses penyelesaian pembangunan asrama tempat penginapan peserta Silatnas.

12 Oktober 2023
Panitia Putri mulai survey, nego harga, dan belanja kebutuhan perlengkapan, dan bahan konsumsi peserta Silatnas.

13 Oktober 2023
Ketua panitia Silatnas Putri dan Tim kembali memberi penguatan kepada Ummahat dan santri terkait Silatnas dengan membuka peluang-peluang kebaikan.

21 Oktober 2023
Panitia Silatnas Putri mengadakan Audiensi dengan Tim dari Banana And Patners terkait kolaborasi dalam bentuk edukasi untuk pengelolaan sampah Silatnas.

17 Oktober 2023
Mushida Balikpapan menggelar kerja bakti Massal ummahat & Santri di seluruh area yang akan ditempati peserta Silatnas Putri.

24 Oktober 2023
Tim Pubdok Silatnas Putri meminta arahan dari Tim Media Center induk,terkait teknis dokumentasi & Publikasi pra silatnas hingga official day.

This is a Shorthand story for reviewPublished stories don't show this section.

GIVE FEEDBACK TO THE STORY OWNER

This feature is not available in landscape. Please rotate your device.

GIVE FEEDBACK TO THE STORY OWNER

More than 4 characters is required
Name must contain only letters, hyphens, apostrophes, full-stops and spaces
Wait, that does not look like a valid email address!
Your feedback was sent to the story owner.
There is been an issue with submitting your feedback.

TEST ON ANOTHER DEVICE

This feature is not available in landscape. Please rotate your device.

TEST ON ANOTHER DEVICE